« Home | Kelas Bisnis Pakai Piring » | Bugil di Danau Es » | Kejarlah Daku dan Tangkaplah Bagasimu » | Orang Indonesia Juga Manusia » | Hotel, Losmen, Guest House, Bungalow, sama bututnya » | Hostel Sandwich » | Ayam Bakpau, bukan Bakpau Ayam » | Penyakit Dunia Ketiga » | Miss Metal Teeth » | Eksotisnya Pohon Pisang »

Saturday, November 19, 2005

Jutawan yang Menyamar Jadi 'Backpacker'

Kalau saya traveling, saya paling anti memberitahu banyak orang tentang rencana kepergian saya. Soalnya pasti mereka akan bilang, “Oleh-oleh ya?”. Tidak tahu dari mana budaya oleh-oleh di Indonesia itu berasal, maksudnya sih sebagai kenang-kenangan tapi kok terasa menyusahkan orang yang pergi. Padahal saya jalan a la gembel, dengan duit terbatas, membawa ransel pula. Oleh-oleh itu harganya mahal tau’, barang-barang suvenir termurah seperti magnet kulkas dan gantungan kunci saja harganya sekitar 2 – 7 Euro atau setaranya dalam Dolar. Apalagi T-Shirt yang rata-rata harganya 2 digit.


Belum lagi kalau ada yang bilang, “Titip ya?”. Males banget! Saya sih bukan seperti teman kantor saya yang bersedia dititipi sepatu merk Vincci. Teman-teman yang lain dengan semangatnya browsing di internet, print gambar sepatu idamannya, dan memberikan gambar tersebut beserta ukurannya kepada teman yang akan jalan-jalan ke Malaysia. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya dititipi Vincci begitu, saya harus meluangkan waktu khusus ke mall, memilih-milih puluhan sepatu, nombokin bayar dulu, dan menggeret koper berat sampai ke Indonesia. Hii! Soal titip-menitip, saya selalu bilang dengan jahatnya, “Hey, titip itu berarti minta tolong dibelikan sesuatu dengan memodali saya uangnya terlebih dahulu. Itupun terserah saya mau apa ngga kan?”. Permintaan titip paling parah ketika teman saya menyembah-nyembah minta dititipi knalpot untuk motor gedenya! Gila apa? Ogah!


Herannya, banyak teman saya yang pasti minta titip kaos dari Hard Rock Cafe, padahal harga selembar polo shirt saja bisa mencapai hampir 450 ribu rupiah. Terus terang saya paling anti masuk ke sana karena tempatnya sangat turis, tidak ada orang lokal yang hang out di sana karena harganya yang mahal untuk makanan yang standar. Tidak seperti di Jakarta dimana Hard Rock sampai saat ini pun merupakan salah satu tempat yang dibanjiri orang lokal. Mungkin karena gaya. Namun saya mengaku, kalau saya nemu Hard Rock Cafe di luar negeri saya tidak kuasa untuk tidak berfoto di depannya, buat nyirik-nyirikin.


Saya paling bela-belain membawakan oleh-oleh atau bersedia dititipi sesuatu bila saya akan nebeng di rumah teman di luar negeri. Yah, sebagai balas budi lah. Biasanya teman-teman Indonesia saya minta dibawakan makanan, seperti abon, serundeng, rendang, lapis legit. Meskipun mereka tidak menyebutkan jumlahnya, tidak mungkin saya hanya bawa sebungkus abon atau sekilo rendang bukan? Nah, kalau teman-teman bule saya yang pernah tinggal di Indonesia, mereka biasanya minta dibawakan rokok 1 slop. Maklum, harga rokok di Indonesia sangat murah sekali dibandingkan harga di sana. Lucunya, ada juga yang minta dibawakan Teh Botol Sosro (tentu saya membawa versi Teh Sosro Kotak) dan permen Kopiko.


Yang paling parah, seorang teman saya di Amerika minta dibawakan ‘sesuatu’ yang akan dikirim adiknya ke rumah saya. Si adik pun datang dengan membawa...1 dus Antangin! Gila, ini masuk angin apa masuk anjing coba? Saya lalu membuka dus tersebut dan membungkusnya dengan kertas kado agar di bagian custom saya tidak rese ditanya-tanya. Pulangnya, teman saya itu - dan teman-temannya yang lain - minta dibawakan pula oleh-oleh untuk keluarga mereka. Alhasil saya disuruh membawa 16 botol gede parfum! Untung saya tidak dikenai pajak, mungkin karena saya menaruhnya di dalam ransel butut, tidak menaruh ransel saya dilalui mesin X-Ray di bagian custom, dan tidak mengaku ada goods to declare.


Bagi saya, definisi ‘oleh-oleh’ itu jenis barang dan harganya terserah yang bawa. Sebagai backpacker, saya biasanya membelikan barang yang murah, ringan, dan berukuran tidak lebih dari segenggaman tangan. Karena saya bekerja di perusahaan yang banyak pegawainya, biar adil saya pasti mencari barang yang kecil dan murah-meriah. Untuk cewek-cewek, saya belikan lipstick, lip gloss, kuteks, atau G-String yang lagi sale. Untuk cowok-cowok, saya belikan korek api, bolpen, pensil, atau coklat versi mini. Untuk sahabat dekat saya, barulah saya agak memutar otak untuk membelikan sesuatu yang lebih spesial. Enaknya kalau ke Amerika, saya bisa beli di Factory Outlet yang menjual barang branded dengan harga sangat miring, seperti kaos merk Gap atau Esprit seharga 3 Dolar-an.


Saya sendiri selalu membawa uang kertas Rupiah limaratusan atau seribuan yang masih licin. Saya paling senang menempelnya di toko atau restoran yang mengkoleksi mata uang manca negara. Sekalian promosi Indonesia gitu. Atau uang tersebut saya berikan kepada teman-teman ‘nemu di jalan’ sebagai kenang-kenangan, lengkap dengan sedikit kata-kata dan alamat e-mail saya. Pasti mereka berkomentar, “Nooo...This is too much!”. Kalau saya lagi mood baik, saya menceritakan tentang mata uang Indonesia yang jeblok banget dibanding Euro atau Dolar. Tapi kalau lagi mood males, saya hanya tersenyum saja biar disangka jutawan yang menyamar jadi backpacker.


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|