« Home | Hotel, Losmen, Guest House, Bungalow, sama bututny... » | Hostel Sandwich » | Ayam Bakpau, bukan Bakpau Ayam » | Penyakit Dunia Ketiga » | Miss Metal Teeth » | Eksotisnya Pohon Pisang » | I'm just a lucky bastard! » | Main Fisik dan Main Ras » | Percaya website = dideportasi » | Don’t Touch the (Women) Dancer! »

Friday, October 28, 2005

Orang Indonesia Juga Manusia

Apakah negara Indonesia cukup ngetop di luar negeri? Ya, bila Anda bertanya kepada orang yang berasal dari negara yang letaknya dekat dengan Indonesia, contohnya orang dari negara-negara Asia dan Australia. Atau tanyalah kepada orang yang berasal dari negara dimana banyak orang Indonesia sering pergi ke sana karena orang Indonesia terkenal suka shopping, sampai-sampai tukang jualan di luar negeri pun banyak yang bisa berbahasa Indonesia meskipun hanya bahasa pasar.


Namun jika Anda pergi ke negara yang ‘tidak biasa’, banyak juga yang tidak tahu di manakah letak negara Indonesia. Kalau jawaban saya ‘in South East Asia’ tidak cukup dimengerti (bisa jadi mereka tidak mengerti arah mata angin), saya kadang mengatakan ‘near Australia’, atau dengan versi ‘between Singapore and Australia’. Padahal jauh banget! Kalau saya bete dengan orang yang tidak tahu Indonesia tapi sok tahu, saya suka bilang, “We have 17,000 islands with 250 million people. Your country is nothing. How come you don’t know my country, stupid!” (tentu kata terakhir saya ucapkan dalam hati saja).


Jika menginap di hostel, kita wajib mendaftarkan diri dan menyebutkan asal negara karena kebanyakan hostel bersistem keanggotaan. Seringkali saat saya menginap di hostel di kota kecil dan/atau di negara yang ‘tidak biasa’ dikomentari, “Indonesia? Humm... there’s no Indonesia in our list. You are the first Indonesian who’s staying here.” Haruskah saya bangga? Tidak juga, karena jarang sekali orang Indonesia yang menginap di hostel gembel seperti saya. Ironisnya orang Indonesia justru terkenal borju di kota besar di negara ‘biasa’. Saat saya menginap di hostel di Paris, saya ‘dituduh’ begini, “Why are you staying here? Indonesians are rich, they love shopping and go on tours with luxury busses!”


Saya ‘bangga’ menjadi seorang Indonesia ketika saya di Belanda atau di Australia. Hanya dengan bau rokok kretek saya, mereka bisa mengidentifikasikan bahwa saya orang Indonesia. Terharu juga mendengar mereka berkata, “Humm...I smell kretek. I miss Indonesia very much!” – selanjutnya mereka bercerita tentang indahnya negara kita dan betapa ramah orangnya. Kalau bukan karena bau kretek, saya pasti dituduh orang Vietnam atau Filipina, dua negara yang orangnya banyak jadi imigran di mana-mana.


Pernah juga tiba-tiba orang di sekeliling saya tahu saya orang Indonesia tanpa menanyakan atau ‘membaui’ saya. Waktu itu saya sedang boarding di airport Brisbane, Australia, dan TV di ruangan pas menayangkan kejadian rusuh di Indonesia. Seketika saya dipelototi orang satu ruangan dan orang di sebelah saya bertanya sambil menyindir, “That’s the country you’re from, right?” Saya hanya meringis dan menjawab, “Well, that’s why I’m here! Holiday!” Saya akui, jawaban saya tidak patriotik.


Namun menjadi orang Indonesia bisa menguntungkan dengan cara yang ajaib: naiklah taksi yang disupiri imigran di negara barat. Karena tahu saya orang Indonesia, seorang supir taksi keturunan Arab di Atlanta, AS, tidak mau dibayar dengan alasan sangat sederhana, “I love Indonesia! They make good sarong for sholat.” Karena saya orang Indonesia, lagi-lagi saya dikasih gratis naik taksi di Christchurch, New Zealand, dengan alasan ajaib supirnya, “You are from Indonesia? Wow! I’m from India!” Apa coba?


Secara statistik pribadi, orang asli Amerika adalah orang yang paling tidak tahu Indonesia ada di mana. Mungkin karena saya pergi ke negara bagian non California, atau karena orang Amerika merasa super power sehingga tidak belajar tentang negara lain. Pertanyaan yang sering diajukan setelah saya menyebut saya berasal dari Indonesia adalah, “Where is that?” atau “Is it near Bali?”. Versi parahnya adalah, “Indonesia? It’s close to Guam right?” Sebel! Paling parah ketika saya ditanya-tanya tentang Indonesia oleh seorang bapak-bapak super bawel yang duduk di sebelah saya di pesawat Singapore Airlines dari San Francisco. Dia bertanya mulai dari Indonesia letaknya di mana, berapa jauh, ibukotanya apa, sampai ke pertanyaan, “What do Indonesians eat for breakfast?” Dengan juteknya, saya menjawab asal saja, “Bread, cheese, bacon, and egg.” Eh dia dengan seriusnya bertanya lagi, “Really? Same here, we eat that for breakfast.” Ih, males!


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|