« Home | Kejarlah Daku dan Tangkaplah Bagasimu » | Orang Indonesia Juga Manusia » | Hotel, Losmen, Guest House, Bungalow, sama bututny... » | Hostel Sandwich » | Ayam Bakpau, bukan Bakpau Ayam » | Penyakit Dunia Ketiga » | Miss Metal Teeth » | Eksotisnya Pohon Pisang » | I'm just a lucky bastard! » | Main Fisik dan Main Ras »

Sunday, November 06, 2005

Bugil di Danau Es

Finlandia, akhir Oktober 2005


Banyak orang di Indonesia, terutama di Jakarta karena saya tinggal di sana, berasumsi salah mengenai sauna. Mereka pikir (mungkin Anda juga) sauna itu berfungsi untuk menguruskan badan sehingga makin menjamur pula tempat sauna di Jakarta, terutama di pusat kebugaran sebagai bagian dari fasilitas untuk ´menguruskan´. Bahkan saya sering menemui orang yang khusus datang ke pusat kebugaran hanya untuk sauna, tanpa berolah raga sama sekali. Dengan keringetan, mereka pikir badannya akan otomatis kurus. Henna, teman saya yang orang asli Finlandia menganggap kebiasaan sauna orang Indonesia ini sangat lucu, sampai-sampai saya diundang khusus untuk merasakan sauna di negara asalnya. Ya, tradisi sauna sendiri berasal dari Finlandia yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Setiap satu dari tiga orang penduduk di sana yang berjumlah 5,1 juta orang bahkan mempunyai sauna sendiri di rumahnya.


Di Helsinki, ibu kota Finlandia, saya sengaja pergi ke tempat sauna publik bernama Yrjönkatu. Tempat ini dibangun pada tahun 1928 di antara kompleks bangunan tua di tengah kota dengan arsitektur yang impresif. Begitu saya masuk dengan membayar 3 Euro, saya takjub dengan pemandangannya: semua orang berbugil ria! Rupanya di tempat ini semua orang diwajibkan untuk bugil – meski dengan versi lebih ´sopan´ dimana pria dan wanita dipisah hari bukanya. Untung saya datang pas hari Jumat, hari bugil wanita. Karena saya datang pagi hari di hari kerja, sebagian besar pengunjungnya adalah nenek-nenek. Saya pun pede untuk bugil saat itu, apalagi kalau dibandingkan dengan mereka yang sudah ngelomprot. Hehe! Di dalamnya juga terdapat kolam renang indoor berukuran 25 x 10 m dengan interior a la Yunani, banyak pula nenek-nenek berenang bolak-balik bahkan bersalto bugil. Hebat! Di sisinya terdapat 2 buah ruang sauna besar, yang satu bersuhu 75 derajat Celcius dan satu lagi 85 derajat Celcius, lagi-lagi banyak nenek-nenek bugil ngerumpi. Nikmatnya jadi nenek di Finlandia! Urutan bersauna a la orang Finnish adalah: mandi di pancuran yang tersedia, sauna selama beberapa menit saja dengan mencipratkan air ke batu di dalam pembakaran terus menerus sehingga keluar uap panasnya, lalu mandi lagi atau berenang, sauna lagi, dan begitu seterusnya.


Pengalaman sauna kedua, saya dan Louise (seorang teman dari Swedia) diundang ke rumah orang tua Henna di pinggir danau kota Verla, sekitar 200 km dari Helsinki. Mereka mempunyai 2 buah sauna, satu di dalam rumah induk dan satu lagi merupakan rumah terpisah yang terletak persis di pingir danau. Kami pun diajak Henna untuk merasakan tradisi sauna mereka, dimana Henna asik terus menerus menuangkan air ke dalam pembakaran sehingga menghasilkan uap yang sangat panas sampai saya pun susah bernapas. Sepuluh menit ngobrol sambil minum bir dingin (seharusnya sih tidak boleh minum alkohol sama sekali), jam 8 malam di musim salju dengan suhu 0 derajat Celcius kami disuruh ke luar dengan hanya berbelit handuk berjalan terseok-seok di antara salju yang turun sejak 2 hari yang lalu. Dan inilah klimaksnya, kami semua wajib (lagi-lagi) bugil menceburkan diri ke dalam danau air es! Ujung jempol kaki saya saja rasanya beku saat berjalan di salju, ini seluruh badan harus nyebur di air es! Brrr!!


Begitulah intinya, sauna bertujuan untuk menghaluskan kulit, relaksasi, mempercepat detak jantung sehingga memperlancar pernapasan dan sirkulasi darah, dan menstimulasi metabolisme. Uap yang dihasilkan dari cipratan air ke batu di perapian lah yang disebut dengan sauna, lah dalam bahasa Indonesia saja disebut mandi uap. Sehabis sauna selanjutnya wajib menceburkan diri di air yang sangat dingin, panas dingin - panas dingin, begitu seterusnya. Berdeda dengan kebiasaan di Indonesia yang sukanya duduk berlama-lama di dalam ruang sauna tanpa uap, kalau bisa selama mungkin sampai kemringet, lalu mandi dan pulang. Ngomong-ngomong, saya jadi ingat komentar seorang teman yang pertama kali merasakan sauna, “Wah, ini sih ngga usah mahal-mahal bayar ke sauna segala, lah wong pengapnya serasa di dalam bis Metro Mini yang penuh!“


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|