« Home | Pilipina, Filipina, atau Pilifina? » | Hotel Kelebihan Bintang » | Naik Gunung? Kemping aja ah! » | Belanja Barang Bermerk » | Arti hidup di negara tropis » | Uka-Uka di Moyo » | Jangan paksa saya buang air besar! » | Sekilas Banda Aceh Kini » | Mengangkang di Kepala Porter » | Satu malam bersama TKI »

Monday, May 08, 2006

The truth about European train

Keliling Eropa paling nyaman, mudah, dan relatif murah adalah dengan menggunakan kereta. Menemukan gerbong kereta mudah saja, tinggal baca di papan petunjuknya yang bertuliskan kota tujuan, jam berangkat, dan di jalur rel nomer berapa. Tapi ternyata tahu jalur saja belum cukup, kita harus lihat diagram posisi gerbong yang biasanya digambarkan di papan pengumuman di pinggir jalur rel kereta. Pernah saya hampir saja terbawa ke kota lain kalau tidak diberitahu kondektur karena kadang ada gerbong yang ‘memisahkan diri’ di stasion tertentu, gerbong dari nomer sekian ke nomer sekian ke kota ini, sementara gerbong-gerbong lainnya ke kota lain lagi. Duh, males banget kan kalau nyasar?

Setiap gerbong ditulis angka 1 atau 2, artinya pembedaan berdasarkan kelas kereta. Sebagai perokok, cepatlah cari gerbong yang ada simbol gambar rokoknya. Tempat duduknya sendiri ada 2 jenis, ada yang tempat duduk saja dan ada yang berbentuk kompartemen dimana 1 kompartemen kaca terdiri dari 6 orang yang duduk hadap-hadapan. Sebagai backpacker, akuilah kita ingin yang murah dan nyaman. Triknya, cepat cari kompartemen yang kosong, dan ‘jajahlah’ tempat duduknya dengan tidur selonjor di 3 kursi. Berlagaklah tidur nyenyak dan tidak mendengar apa-apa, alhasil Anda bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk tidur dengan punggung rata. Paling orang yang masuk cuma geleng-geleng kepala dan mereka pergi mencari kompartemen lain. Kalau kereta penuh, tentu kita juga harus bersedia memberi tempat duduk, tapi kita bisa ‘memilih’ orang kok. Nah, kalau yang masuk cowok ganteng, silakan bangun dan mempersilakan duduk dengan senyum yang termanis. Kalau yang masuk nenek-nenek yang kelihatan tidak menyenangkan, tetaplah berlagak budeg dan tidur. Namun kalau berlagak tidur tidak cukup untuk ‘mengusir’ orang, cara lain adalah menghisap rokok kretek Indonesia yang baunya saja membuat orang males masuk.

Untuk jarak jauh, kita bisa tidur di gerbong khusus couchette dimana senderan kursinya bisa dinaikkan dan dijadikan tempat tidur. 1 kompartemen bisa jadi 4 bunk-bed. Suatu kali saya naik kereta dari Paris ke Roma, saya baru sadar bahwa penomoran tempat duduknya sangat rasis. Dalam 1 kompartemen para penumpangnya ‘disesuaikan’ berdasarkan warna kulit: kulit putih dan kulit putih, kulit hitam dan kulit hitam, kulit coklat dan kulit coklat. Saya yang tadinya berharap sekompartemen dengan 3 lelaki Italia yang ganteng-ganteng, kenyataannya berbeda 180º: saya dimasukkan ke kompartemen bersama 3 bapak-bapak tua India yang ampun-dah-bau-kakinya dan ampun-dah-berisik-ngoroknya!

Dengan menggunakan tiket Eurail Pass, kita berhak berkereta ke negara-negara Eropa yang masuk ke dalam jaringannya namun perhatikanlah peraturan tentang visa – Schengen tidak termasuk Swiss dan Inggris. Dulu sebelum ada visa Schengen, kita harus mengurus visa satu-persatu ke setiap Kedutaan Besar, begitu juga dengan kereta yang sering diberhentikan di perbatasan untuk pemeriksaan paspor dan visa. Bahkan di tengah malam pun, kita akan dibangunkan oleh petugasnya. Kadang ada sistem kolektif, beberapa jam sebelum sampai perbatasan si petugas mendatangi kita dan mengumpulkan paspor penumpang sehingga kita tidak perlu turun untuk diperiksa. Pernah suatu malam di perbatasan Jerman dan Ceko, saya terbangun karena mendengar derap orang baris-berbaris yang menggunakan sepatu boots yang berat. Bug, bug, bug. Begitu saya membuka mata, segerombolan tentara bersenjata sedang memasuki kompartemen kami satu per satu untuk pemeriksaan paspor. Ih, serasa di zaman perang jadi tawanan gitu!

Sistem kereta Eropa yang canggih benar-benar tepat waktu sampai ke menit-menitnya, jadi kalau dalam jadwal kita akan tiba di kota X pada jam 13.03 maka tepat jam 13.03 kita akan sampai di kota X. Susahnya kalau kita turun di suatu kota kecil, tidak ada pemberitahuan yang jelas kecuali membaca plang, belum lagi kereta hanya berhenti 2-3 menit saja, sehingga saya harus menyalakan alarm sebagai pengingat. Suatu malam tiba di kota Strasbourg, entah mengapa alarm tidak berbunyi dan baru tersadar setelah membaca plang stasion. Buru-buru saya ambil ransel dan berlari tanpa mengaitkan tali ransel bagian pinggang. Di pintu sebelum keluar, tali ransel saya stuck dengan sesuatu sehingga saya tidak bisa bergerak. Usut punya usut ternyata tali ransel tersangkut di kepala seorang kakek-kakek yang sedang asik tidur di kursi terdekat dari pintu. Saya tarik sedikit, si kakek tidak bergeming. Saya guncang-guncang badannya, si kakek tetap diam. Saya minta tolong orang di sebelahnya untuk membangunkan, tetap cuek. Akhirnya pluit kereta bunyi, saya tidak ada waktu lagi, dan… KREK, saya tarik ransel dengan kencang, berlari ke pintu sampai badan saya sempat terjepit di antara kedua pintu kereta. Bagaikan Hulk saya merentangkan tangan menahan pintu, baru saya loncat keluar. Dari kejauhan saya melihat si kakek dari jendela memaki-maki saya sambil mengacung-acungkan bogem. Saya cuek saja berjalan dan ketika saya akan mengaitkan tali ransel di pinggang, saya pun melihat...sejumput rambut putih si kakek! Walah, saya telah mencabut sebagian rambutnya yang memang sudah sedikit!! Ups...


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|