« Home | Mengangkang di Kepala Porter » | Satu malam bersama TKI » | Phobia-mu jadi Phobia-ku! » | Pulau Indah Terjajah » | Road to Heaven » | Banyak matahari, sedikit jalan kaki » | Kumbang, pantat dan kentut » | Thai Message » | Jangan sirik dengan ransel saya » | Aneka Dugem (2) »

Friday, February 24, 2006

Sekilas Banda Aceh Kini

Baru-baru ini saya melakukan 2 hari perjalanan bisnis ke Banda Aceh, cerita tragis mengenai gempa dan tsunami tahun lalu membuat saya ingin tahu seperti apa kota itu sekarang. Pesawat yang membawa saya ke sana penuh, Business Class dipenuhi bule-bule membawa laptop. Dari atas sebelum pesawat akan mendarat, saya melihat betapa Aceh itu subur dan indah. Meskipun terlihat ada pergeseran garis pantai akibat sapuan tsunami namun pegunungannya indah, sawahnya hijau, pantainya bersih, dan air lautnya biru. Seandainya saya ada waktu untuk diving di Pulau Weh...

Tak jauh dari bandara, terdapat pemakaman massal puluhan ribu warga korban tsunami – mengingatkan saya pada makam Killing Fields of Choeung Ek. Di sebelah kanan terdapat spanduk besar bertuliskan welcome humanity heroes, thank’s for your help (thanks pakai tanda kutip). Saya pun melihat banyak kendaraan baru dan bagus hasil sumbangan PBB maupun LSM luar negeri, baik berupa mobil ambulance, pemadam kebakaran, panser, pick up, truck, ranger, dan lain lain. Warga negara asing pun banyak terlihat di jalan, entah apa kerjanya. Mereka berpakaian a la Indiana Jones, tapi ada juga memakai celana pendek dan kaos singlet seperti turis. Ternyata tidak cuma bule-bule saja, tapi ada juga segerombolan orang asal India. Yang membuat saya mengerutkan kening adalah ketika saya melihat beberapa cewek Jepang yang memakai rok mini, stocking dan jaket kulit hitam di siang bolong. Ngapain coba cewek-cewek dengan berpakaian seperti itu di sini?

Saya pun menyempatkan diri untuk mampir di Masjid Raya Baiturrahman, landmark kota Banda Aceh. Saya jadi teringat salah satu stasion TV yang menayangkan gambar orang-orang dari atas masjid tersebut berdiri ketakutan menyaksikan banjir bandang yang besar yang menyapu kota. Padahal masjid itu besar dan tinggi namun tidak tampak rusak, kecuali menara di depannya yang dindingnya sedang direnovasi. Pusat kota Banda Aceh sendiri sudah bisa dibilang pulih, sudah ramai dengan toko-toko, ada beberapa bank dengan ATM, juga restoran-restoran (masakan khas andalannya adalah ‘ayam tangkap’ dan ‘mie Aceh’ dengan kuah pedas yang nikmat). Bekas-bekas tsunami terlihat dari tanah yang lembab dan kotor, kaca-kaca bangunan yang masih pecah dan belum diperbaiki, atau atap-atap yang masih bolong-bolong, namun tidak banyak. Sekolah-sekolah masih ada yang rusak sehingga beberapa sekolah dijadikan satu. Di pinggiran kota saya juga melihat perumahan penampungan korban tsunami yang terbuat dari papan tripleks.

Tak jauh dari masjid terdapat plang Hotel Kuala Tripa yang dulunya merupakan hotel terbagus di Aceh namun sudah rata dengan tanah. Saat ini hotel terbaik yang ada di Banda Aceh adalah Hotel Sulthan, hotel berbintang tiga ini konon peninggalan zaman Belanda sehingga konstruksinya kuat sehingga tidak hancur berat. Karena satu-satunya hotel yang representatif, selalu fully booked terutama dengan bule-bule yang bekerja di LSM, bahkan mereka mem-book restoran secara permanen untuk acara makan mereka. Harga menginap sebelum tsunami katanya hanya 150 – 300 ribu per malam, sekarang naik lebih dari 100% meskipun sebagian kamar hotel masih direnovasi. Pemandangan dari jendela kamar tipe deluxe di lantai 2 adalah tanah yang becek dan tumpukan kayu-kayu yang lepas terhantam air.

Yang menarik bagi saya adalah hukum Islam yang ditegakkan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini. Ketika keluar dari bandara, ada billboard besar bertuliskan ‘Anda memasuki daerah Syariat Islam’ dengan gambar orang berbaju Muslim. Di kota pun ada beberapa promosi pemerintah melalui spanduk, seperti spanduk bertuliskan ‘wanita berbaju ketat sama dengan syeitan’ dengan tipe font pada kata 'syeitan' yang berdarah-darah. Atau spanduk yang bertuliskan ‘warga kota diwajibkan untuk berbusana Islami, menutup aurat, tidak ketat, dan tidak tipis’. Polisi Syariat yang berseragam khusus terlihat berpatroli menangkap wanita yang tidak berkerudung atau pria-wanita yang berduaan di tempat umum tanpa surat nikah. Bagaimana dengan saya yang bukan Muslim? Katanya sih tidak apa-apa, tapi kan males juga kalau didatangi polisi jadi saya pun turut memakai baju lengan panjang dan kerudung. Problem saya adalah ketika saya berpakaian seperti itu, bagaimana saya merokok? Kedua, kalau saya berenang di pantai (misalnya saya jadi diving di Pulau Weh), baju apakah yang harus saya pakai?


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|