« Home | Naik Gunung? Kemping aja ah! » | Belanja Barang Bermerk » | Arti hidup di negara tropis » | Uka-Uka di Moyo » | Jangan paksa saya buang air besar! » | Sekilas Banda Aceh Kini » | Mengangkang di Kepala Porter » | Satu malam bersama TKI » | Phobia-mu jadi Phobia-ku! » | Pulau Indah Terjajah »

Sunday, April 23, 2006

Hotel Kelebihan Bintang

Menginap di hotel yang berada bukan di ibu kota propinsi di Indonesia dan bukan daerah tujuan wisata bagi saya memang menarik dan lucu. Kebanyakan karena pekerjaan lah yang membawa saya ‘bertualang’ di hotel-hotel daerah, meski saya selalu menginap di hotel terbaik yang ada di suatu kota. Kategori hotel di daerah berdasarkan bintang sudah rancu, kadang ada hotel tanpa bintang yang jauh lebih bagus daripada yang berbintang, seperti hotel Swa-Loh di Tulung Agung. Siapa sangka hotel dengan nama yang kurang keren itu berada di pinggir waduk besar dengan pemandangan sangat indah dan memiliki fasilitas Spa.

Namun biasanya kamar hotel di daerah ya biasa saja, temboknya kusam dan lembab, dengan lantai tegel tanpa karpet. Interior kamar dibedakan berdasarkan kelasnya, kalau kamar standar artinya warna dan mebel yang ada di dalam kamar tersebut tidak nyambung; selimut bisa merah, korden bisa coklat bluwek, kursi warna coklat dan meja warna hitam. Kalau kamar superior atau deluxe, artinya warna dan mebelnya nyambung... tapi hati-hati warnanya bisa menyolok mata. Contohnya sebuah hotel di Tasikmalaya yang kamar deluxe-nya memiliki korden, bed cover, dan kain penutup lemari berwarna shocking pink dan terbuat dari satin! Aww!

Kunci kamarnya jelas bukan sistem digital, tapi kunci putar biasa dengan gantungan kuncinya yang besar dan berat terbuat dari kayu atau akrilik. AC sih ada, cuman masih ada AC window yang kalau malam sangat berisik. TV jelas tidak ada channel luar negeri, tapi ukurannya 14 inchi. Untuk mendapatkan hasil tontonan TV terbaik, antena harus kita arah-arahkan sendiri, bahkan rebutan antena dari kamar sebelah.

Untungnya, di setiap hotel terbaik di daerah selalu ada air panas untuk mandi - meski tidak janji akan derasnya air mengalir, dan toiletnya pun sudah model duduk. Tapi hari gini masih ada hotel yang kamar mandinya masih pakai bak mandi dan gayung seperti di salah satu hotel di Jember. O ya, hotel di daerah juga menyediakan sabun, sikat gigi, dan odol, meski dengan merk yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Tapi sayangnya, mereka tidak pernah menyediakan shower cap.

Yang nyebelin adalah seprei dan sarung bantalnya yang tidak crispy seperti di hotel berbintang. Tambah lagi kadang berbau lembab karena tidak kering dicuci, bahkan kadang berbau minyak rambut pria karena memang tidak dicuci. Hiii! Persamaan dari semua hotel di daerah adalah handuknya yang tidak berwarna putih bersih, malah seringnya pinggiran handuknya sudah ‘dedel dowel’.

Sarapan pagi yang selalu sama di hotel daerah adalah menunya, kalau tidak nasi goreng ya mie goreng – kalau untung, ada bakso dan sosis dibentuk kembang di dalamnya. Lauknya adalah telor yang sudah digoreng ceplok dan diletakkan di wadah, jadi tinggal ambil satu-satu. Ada juga roti, dengan pilihan olesannya berupa mentega kuning dan berminyak, coklat tabur, selai yang super manis rasanya, atau gula pasir. Kopi atau teh disediakan di teko besar alumunium yang tinggal diputar keran di bagian bawahnya. Piring dan cangkir rata-rata terbuat dari melamin yang bercorak tidak seragam satu sama lain dan dasarnya pun sudah berwarna kecoklatan. Room service biasanya tutup jam 12, silakan kelaparan lewat dari jam segitu. Laundry jangan mengharapkan bisa jadi dalam waktu cepat dan garing. Setelah dua hari pun pun pakaian masih lembab karena mencucinya manual dan sangat tergantung dengan panas matahari untuk menjemur.

Ada cerita lucu. Suatu hari di Jepara, saya menginap di hotel bintang tiga yang terbaik di kota itu. Saya menelepon house keeping untuk meminjam hair dryer. Saya berpikir, bukankah biasanya kalau tidak disediakan di kamar, kita bisa meminjamnya di house keeping. Setelah selama lima menit telepon saya digantung karena mereka masih mencari, akhirnya si petugas menjawab begini, “Maaf, Bu. Kami tidak menyediakan hair dryer.”
“Oh, hotel bintang tiga tidak punya hair dryer ya?”, sindir saya iseng.
“Maaf, Bu, ini hotel bintang dua,” jawab si petugas serius.
“Loh, di papan merk di depan hotel bintangnya tiga tuh.”
“Maaf, Bu, itu ada kesalahan, kami sablonnya kelebihan satu bintang.”
Hahaha!

Yah, ada harga ada mutu. Menginap di hotel daerah itu rata-rata dua ratus ribu rupiah semalam sudah termasuk sarapan pagi.


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|