« Home | Dimana Andorra? » | Makan Hemat dan Nekad (2) » | Makan Hemat dan Nekad (1) » | Jutawan yang Menyamar Jadi 'Backpacker' » | Kelas Bisnis Pakai Piring » | Bugil di Danau Es » | Kejarlah Daku dan Tangkaplah Bagasimu » | Orang Indonesia Juga Manusia » | Hotel, Losmen, Guest House, Bungalow, sama bututny... » | Hostel Sandwich »

Friday, December 02, 2005

Tidak Semua Pramugari Seksi

Sejak duduk di bangku TK, saya bercita-cita menjadi pramugari, pikiran saya waktu itu rasanya enak bisa jalan-jalan ke mana-mana. Namun sejak SD saya sudah memakai kaca mata, jadi gagal lah cita-cita saya. Belum lagi penampilan saya yang bukan pramugari banget. Hehe! Memang pramugari bagaikan role model, mereka cantik, tinggi, langsing, rapih, dan ramah. Suatu hari teman saya berkomentar, “Enak banget pramugari Citilink, kerjanya cuman ngasih Aqua gelas.” Pemikiran ini salah, sebab fungsi utama pramugara dan pramugari di pesawat terbang adalah flight safety, malah service adalah nomer dua. Kenapa pramugari pramugara tinggi-tinggi ya untuk alasan sederhana saja, supaya nyampe kalau menutup bagasi di atas kursi penumpang. Masalah good looking, usia, ukuran tubuh, dan kaca mata adalah relatif, tergantung dari kebijakan masing-masing perusahaan penerbangan.


Pramugara pramugari dari penerbangan asal negara Asia Tenggara is the best. Buktinya The Best Cabin Crew pasti dimenangkan oleh Singapore Airlines atau Malaysian Airlines. Mungkin karena budaya kita yang gila hormat dan senang dilayani sehingga servis pramugara pramugari dibuat paling oke. Pramugarinya pun langsing-langsing, bahkan ukuran pinggangnya mungkin selebar satu paha saya saking kecilnya. Gendut sedikit, mereka di-grounded – tidak boleh terbang sampai kurus lagi (tentu ukuran ‘gendut’-nya Singapore Airlines tidak manusiawi bagi saya). Sedangkan pramugaranya juga ganteng-ganteng, meskipun bermata sipit tapi mukanya seperti penyanyi F4. Saya penasaran juga sama pramugara Royal Brunai. Maaf, cowok-cowok Brunai kan ga ada yang cakep menurut saya, paling cakep pun mukenye kayak B’Jah. Rupanya tidak ada pramugara yang Melayu, semuanya Cina dan lumayan menyenangkan untuk dilihat. Kalau Garuda Airlines bagi saya juga oke, meskipun mereka saya kategorikan ‘dewasa’ bila dibandingkan dengan pramugari penerbangan lokal lainnya seperti Lion, Batavia, Sriwijaya, dll.


Setelah saya ‘berpengalaman’ naik pesawat terbang non Asia Tenggara, barulah saya sadar bahwa pramugara dan pramugari itu tidak semuanya ganteng–macho, atau cantik–langsing. Tidak usah jauh-jauh, di Sri Lankan Airlines, pramugarinya mengenakan seragam kain Sari seperti baju kebangsaaannya India yang bagian perut dan pinggangnya terbuka. Tapi orang Sri Lanka itu berkulit hitam, turunan Tamil, dan mereka badannya tidak tipis bagaikan orang Singapura. Jadilah daging berlebih di bagian perut dan pinggangnya mencelat ke luar dan berwarna hitam berbintik-bintik pula. Hiii!


Dalam penerbangan asal negara Arab seperti Gulf Air atau Emirates Airlines, jangan dikira pramugarinya mengenakan jilbab. Mereka justru memakai seragam biasa dengan tambahan topi kecil bercadar tipis, seperti Ginny in the Bottle. Nah seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, menurut saya pramugara Emirates lah yang paling guanteng-guanteng. Ih, sampe kalo diajak ngomong saya bisa bengong karena takjub. Lucunya, peragaan keselamatan lewat tivi modelnya justru bukan pramugara yang ganteng-ganteng itu, tapi bapak-bapak tua, gendut, berkumis tebal a la Pak Raden dan bermuka sangat Arab, persis kayak di Tanah Abang.


Di Quantas, pertama kali saya melihat ada pramugara yang gay golongan bottom alias cowok yang menjadi perempuan dalam hubungan ‘kehombrengannya’ dengan cowok lain. Begitu si pramugara mendatangi saya dan menawarkan kopi, cara dia menuangkan teko ke cangkir saya sangat bencong banget dengan kelingking yang selalu tertekuk ke luar. Begitu dia jalan, apalagi, ketahuan banget kalau dia gay. Tahu kan maksud saya?


Nah, kalau penerbangan Eropa lebih parah lagi. Pramugara dan pramugarinya tidak ada yang muda. Pernah saya naik Swiss Air, sepesawat dilayani 3 oom-oom pramugara, berkacamata, dan gendut pula, persis seperti tokoh film seri Mr. Belvedere. Atau waktu saya naik Austrian Airlines dan British Airways, kami dilayani oleh pramugari yang semuanya tante-tante tidak langsing dengan rambut keriting awut-awutan. Di Lufthansa bahkan banyak juga pramugara yang gay. Saya penasaran pengen lihat para gay itu memperagakan keselamatan, tapi ternyata lewat tivi – modelnya pun kartun, bukan manusia. Tapi soal servis, mereka masih mending lah, paling tidak saat menawarkan bahasanya masih sopan, “Would you like to have coffee or tea, ma’am?”


Paling parah menurut saya adalah penerbangan lokal di Amerika Serikat. Delta Airlines maupun United Airlines dilayani oleh pramugara kakek-kakek dan pramugari nenek-nenek. Udah ubanan, berkaca mata melorot, gendut, tidak ramah lagi. Pas membagikan makanan di nampan tanpa basa-basi, dilempar begitu saja di meja. Saat menawarkan minuman, cuman bilang, “Coffee? Tea? Coke?”. Salah satu pramugari tua gendut yang berkulit hitam menawarkan saya softdrink kalengan, dia bahkan meminta saya untuk membuka sendiri kalengnya karena kukunya yang panjang tidak bisa mencongkel dan takut merusak kuteksnya yang berwarna norak. Sialan!


Yah maklumlah di negara Barat dengan jumlah penduduk yang sedikit dan generasi muda yang jarang (plus hukum persamaan hak), membuat sulit mencari pramugara pramugari yang muda dan seksi. Selain itu, saking seringnya orang di sana bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, perusahaan penerbangan pun kurang mengutamakan servis. Tanpa servis yang baikpun, orang pasti naik pesawat - yang penting sampe tujuan.


E-mail this post



Remenber me (?)



All personal information that you provide here will be governed by the Privacy Policy of Blogger.com. More...

|