Tuesday, December 26, 2006 

Bali dan Telur

Rasanya kita semua mempunyai kenangan khusus terhadap Bali, pulau yang sangat negetop - bahkan lebih ngetop daripada negara Indonesia sendiri. Maaf, saya sangat heran kalau ada orang Indonesia yang belum pernah ke Bali, atau ada juga teman saya yang terakhir ke Bali saat masih anak-anak diajak liburan bersama keluarga. Lucunya lagi, Bali menjadi tempat favorit liburan turis lokal pada saat ada hari raya keagamaan yang membatasi perayaan di Jakarta!

Pertama kali ke Bali saya masih SD dan diajak liburan bersama keluarga. Kami menginap di hotel, ikut tur keliling Bali – sampai sekarang turnya tidak berubah, ke Ubud, Kintamani, Tanah Lot, Pura Besakih, Monkey Forest, Uluwatu, terus malamnya pasti ada acara nonton tari-tarian seperti Kecak, Legong atau Sendratari Ramayana. Pantai Kuta yang dulu masih bersih, jadi tempat berenang sehari-hari sampai ‘gosong’ terbakar matahari. Periode ini saya jalani beberapa kali, kadang saya diajak ke Bali karena orang tua saya sedang ada seminar atau konferensi sehingga saya bisa nebeng di kamarnya dan seharian ‘keleleran’ bersama abang saya ke mana-mana.

‘Kemerdekaan’ saya ke Bali dimulai saat saya liburan SMA, berdua bersama sahabat saya. Namanya juga anak sekolahan, duit sangat terbatas – itupun mengambil dari tabungan (dulu namanya Tabanas). Dengan ransel kami ke Bali naik bis, saya ingat dulu naiknya harus dari daerah Pasar Baru. Sampai Terminal Ubung, naik angkot ke daerah Kuta. Penginapan cari yang termurah yang ada di gang-gang kecil, semalam Rp 10.000 saja – itupun sudah termasuk sarapan pagi berupa roti dan teh manis. Bentuk penginapannya mirip kos-kosan yang terbuat dari kayu dengan kamar mandi di luar. Untuk jalan-jalan kami menyewa sepeda seharga Rp 5.000 sehari, sialnya malam kedua sudah tidak bisa naik sepeda lagi karena selangkangan melepuh! Kenangan yang tidak terlupakan adalah ketika kami ingin sekali makan di Made’s Warung, restoran yang saat itu ngetop banget tapi harganya tidak sesuai kantong. Jadilah kami memesan 2 rice and 1 sunny side up, alias nasi dan ceplok telor! Rasanya itu ceplok telor terenak di dunia saking bangganya bisa makan di sana.

Saat kuliah, saya ke Bali lagi bersama 2 orang teman. Masih naik bis dan lagi-lagi menginap di penginapan di gang, tapi kali ini ada kipas angin. Saya ingat setiap sarapan kami ditanya dulu, ‘Mau sarapan roti pakai telur atau pakai selai?’ dan kami selalu menjawab ‘ya telur lah!’ mengingat telur lebih bergizi dan mengenyangkan. Kemajuannya, karena sudah sedikit berduit akibat kuliah sambil kerja, kali ini kami sudah ‘mampu’ sewa sepeda motor untuk jalan-jalan, bisa belanja sedikit di pasar, bisa ngebir di cafe kecil di pinggir jalan. Akhirnya selama kuliah saya telah beberapa kali ke Bali, meski kadang hanya sebagai tempat persinggahan sebelum jalan-jalan ke Lombok dan Sumbawa.

Saat awal kerja, ke Bali mulai sedikit borju. Koper sudah model yang digeret pake roda, pergi naik pesawat, menginap di hotel ber-AC dan kamar mandi dalam, makan di restoran, sarapan pagi sudah a la buffet yang boleh makan telur model apapun sepuasnya. Kemajuannya lagi, sudah sanggup sewa mobil Katana. Acara malam ditambah dengan dugem dari satu diskotik ke diskotik lain. Setelah 3 tahun kerja, beberapa teman saya menetap di Bali. Jadilah Bali sebagai tempat ‘ngabur’ pas wiken, pergi Jumat malam pulang Senin pagi langsung ngantor. Sewa mobil sudah tidak masalah karena bisa pinjam punya teman. Aktivitas pun jadi beragam, selain ke pantai-pantai dan pegunungan, bisa naik ATV di tengah hutan, scuba diving, sampai sailing ke Pulau Lembongan. Malamnya dugem sampai pagi - pokoknya kerjanya mabuk, mabuk, dan mabuk! Pernah juga suatu masa ke Bali bersama rombongan keluarga besar saya yang rame itu, aktivitasnya masih ke tempat-tempat wisata dengan menyewa Kijang termasuk supir dan tentu makan enak ke sana ke mari, dibayari lagi.

Sudah ‘tua’ seperti saat ini, malah saya jadi lumayan sering business trip ke Bali. Rasanya jauh berbeda: isinya meeting seharian di kantor cabang, habis makan malam langsung tidur karena capek. Pernah lebih parah lagi – sampai hotel jam 3 pagi, jam 9 pagi meeting seharian, jam 5 sore sudah terbang lagi. Boro-boro leyeh-leyeh di kolam renang hotel, saya cuma bisa gigit jari melihat orang jalan-jalan pake short dan tank top. Lagi-lagi soal telur, saat ini sudah dikurangi konsumsinya karena takut kolesterol. Perbedaan saat ini kalau sedang liburan pribadi di Bali, saya malah tidak ke mana-mana. Siang leyeh-leyeh ke Pantai Gerger, makan di restoran fine dining, sore mengopi di pinggir pantai, malam nongkrong sambil minum wine di rumah teman. Kalau ‘wis tue’ begini, kebersamaan dengan para sahabat lebih berarti, di mana pun tempatnya...


Monday, December 18, 2006 

Best Getaways You’ll Love!

FYI, kutipan tulisan saya yang dimuat di Majalah SHAPE edisi Desember 2006...

Shape’s Best Getaways You’ll Love!

Apa rencana Anda untuk akhir tahun ini? Kebanyakan dari kita senang berkunjung ke Singapura atau Malaysia dan melewatkan pergantian tahun di sana. Kalau punya budget ekstra, Eropa atau Amerika akan jadi pilihan. Pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang! Dengan budget yang lebih ekonomis, Anda bisa menikmati liburan tanpa harus melalui penerbangan selama belasan jam. Berikut ini adalah beberapa tempat liburan yang terbaik di dunia bagi Anda yang menyukai keindahan alam, tak bisa lepas dari pantai, peminat situs arkeologi, hobi berbelanja, bahkan maniak dugem!

The Best Scenery: Selandia Baru

Anda tentu masih ingat indahnya pemandangan alam di film Lord of The Rings, seperti dalam scene desa Hobbiton, Misty Mountains, Mount Doom, bukit Edoras, Mordor, Ford of Bruienen, dan Pillars of the Kings. Lokasi syuting film tersebut semuanya diambil di Selandia Baru. Bahkan, syuting film-film Bollywood pun sering mengambil lokasi di sana, meski orang tetap menyangka syutingnya di Swis karena ada latar belakang pegunungan saljunya. Negara yang sering dibilang lebih banyak jumlah domba daripada manusianya ini memang merupakan tempat yang cocok bagi mereka yang mencari ketenangan atau kedamaian.

How to enjoy your holiday: Cara terbaik menikmati keindahan negara ini adalah dengan berkendara mobil. Berbekal SIM Indonesia, Anda diperbolehkan menyewa mobil dengan berbagai tipe. Ajak dua-tiga teman agar biaya bisa ditanggung bersama dan acara jadi lebih fun. Ingin lebih seru? Sewa campervan (caravan), mobil sebesar minibus yang dilengkapi tempat tidur dan memasak berikut peralatannya. Dan, nikmati saja perjalanan yang penuh kejutan di setiap kelokannya. Hutan yang tiba-tiba lebat, pegunungan putih tertutup salju, pegunungan berwarna cokelat, pantai berpasir putih dengan air yang biru, serta beragam pemandangan menakjubkan lainnya. Tersedia juga scenic look out, yaitu tempat parkir mobil sehingga Anda bisa mengabadikan pemandangan spektakular ini.
Singkat kata, ada beragam aktivitas yang unik dapat dilakukan di Selandia Baru: bergaul di kota kosmopolitan di Auckland, berenang bersama lumba-lumba di Bay Islands, trekking di hutan Waipoua Kauri, melihat cacing menyala di gua Waitomo, menikmati budaya suku asli Maori dan melihat lumpur panas yang masih bergolak di Rotorua, kayaking di Abel Tasman National Park, menikmati kota bergaya Perancis di Akaora, berjalan di atas glacier (lelehan es yang turun bagaikan sungai dari atas gunung) di Franz Josef and Fox, menikmati pemadangan pegunungan bersalju abadi yang fantastis di Mount Cook, naik kapal di danau air tenang sambil menikmati pemandangan fiord dengan air terjun di Milfourd Sound, sampai mencoba keberanian untuk jet-boating di sungai Kawarau dan bungee jumping di Queenstown. Menarik, bukan?

Best time to Visit: Kebalikan dari Eropa, musim panas Selandia Baru jatuh di bulan November sampai April (suhunya 20-30ºC), musim dingin bulan Juni sampai Agustus (suhunya 10-15ºC) untuk bermain ski. Paling baik datang ke sana pada musim semi, di mana pemandangan menjadi tambah spektakular dengan dedaunan yang menguning.

Budget:
Pesawat dari Jakarta ke New Zealand (Auckland atau Christchurch) sekitar US$ 700 pulang-pergi.
Menginap per malam rata-rata NZ$ 20 (hostel), NZ$ 40-80 (hotel kelas menengah), NZ$ 100 (hotel kelas atas)
Makan mulai dari NZ$ 7
Menyewa mobil untuk 24 jam mulai dari NZ$ 45, bensin NZ$ 1,60 per liter.

The Best Beach: Maldives

Jelas sekali, pantai yang satu ini adalah pantai terbaik di dunia. Terletak di Maldives (dalam bahasa Indonesia Maladewa), negara kecil yang terletak di Samudera Hindia, persis di garis khatulistiwa arah selatan Sri Lanka ini memiliki 1.190 pulau yang tersebar menjadi 26 kepulauan atol besar. Untuk masalah visa, Anda tak perlu cemas karena ini bisa diperoleh upon arrival. Jadi, siapa pun bisa langsung datang ke sana dan diberi bebas visa selama 30 hari.

How to enjoy your holiday: Maldives dijuluki the last paradise on earth karena pulau-pulau tropisnya yang alami, bersih, indah, dengan lambaian daun pohon kelapa, warna air laut yang indah, serta pasirnya yang putih dan halus bagaikan icing sugar, belum lagi alam bawah lautnya yang indah. Berfoto di mana pun rasanya tidak pernah salah dengan latar belakang pemandangan indah seperti itu. Hebatnya lagi, air lautnya tenang karena terhalang atol, dan entah mengapa rasa air lautnya tidak begitu asin sehingga berenang pagi-siang-sore-malam pun tidak masalah. Bagi para scuba divers, Maldives merupakan tempat idaman – terdapat terumbu karang yang cantik, gua laut, wreck, ikan Napoleon, Manta Ray, Eagle Ray, penyu, White Tip dan Hammerhead Sharks yang tersebar di lebih dari 250 dive sites.
Penginapan di Maldives biasanya terletak di pulau-pulau yang tersebar. Satu Di dalam satu pulau bisa terdapat beberapa hotel. Ada juga pulau yang hanya memiliki satu resor. Sebagai alternatif, Anda bisa tinggal di kapal pesiar, atau jika Anda salah satu scuba divers, Anda bisa pilih live-aboard agar dapat menyelam di banyak spot. Intinya, ada harga, ada mutu. Untuk menikmati surga di Maldives, Anda sepertinya tak mungkin datang dengan budget ala backpackers. Tapi, fasilitas yang bisa Anda dapatkan di beberapa resor mewah, seperti Banyan Tree Maldives, Four Seasons Resort, Hilton Maldives Rangali, ataupun hotel bintang lima lainnya amatlah lengkap. Selain bisa fasilitas standar seperti kolam renang, restoran, diskotik, karaoke, lounge, toko, serta fasilitas olahraga, Anda bisa juga menikmati olahraga air. Mulai dari snorkeling, scuba dving, canoeing, banana boat, jet ski, hingga parasailing. Kalau Anda berminat, hotel juga bisa mengatur trip untuk memancing, seperti naik kapal selam, ke pulau-pulau sekitar yang tidak berpenghuni, ke desa nelayan, sampai dinner romantis di atas kapal. Yang jelas, sekali ke Maldives rasanya semua pantai lain menjadi biasa saja.

Best time to visit:
Bulan Desember sampai April, karena matahari bersinar penuh dan visibility air yang sangat baik sehingga diminati para scuba divers. Namun saat itu adalah high season (terutama libur Natal dan Tahun Baru) sehingga harga hotel membumbung tinggi dan sering penuh.
Bulan Mei sampai November biasanya berawan, memiliki tingkat kelembaban yang tinggi dan kadang turun hujan. Keuntungannya, karena termasuk low season sehingga harga hotel lebih murah.

Budget:
Pesawat dari Jakarta ke Malé sekitar US$ 700 pulang-pergi.
Paket menginap full-board di island resort mulai dari US$ 150/orang/malam
Untuk lebih hemat, ambilah paket pesawat dan hotel Maldives dari travel agent di Colombo, jadi Anda bisa sekalian traveling di Sri Lanka.

The best temple: Kota Candi Angkor, Siem Reap, Cambodia

Kompleks candi Angkor yang termasuk dalam salah satu UNESCO World Heritage Site merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Khmer pada abad 9-13. Terletak di tengah hutan rimbun di utara danau Tonle Sap, dekat kota Siem Reap, Kamboja, nama Angkor Wat yang sering Anda dengar itu hanyalah salah satu candi di antara seratusan candi di area tersebut. Kebudayaan Khmer terkenal dengan kemahirannya mengukir batu, terbukti dari indahnya candi-candi di Angkor. Bahkan Angkor Wat sendiri disebut sebagai monumen paling besar dan paling spektakuler yang pernah dibuat manusia sepanjang sejarah. Candi-candi di sana dibangun untuk ritual religius, penyembahan terhadap Raja, dan literatur dari epik India yaitu Ramayana and Mahabharata yang terlihat pada relief dinding-dindingnya. Setelah lama “hilang”, pada tahun 1907-1970 Angkor direstorasi oleh tim arkeologi dari Perancis yang tergabung dalam École Française d'Extrême Orient (EFEO), sampai sekarang pun Angkor masih direstorasi oleh konsorsium beberapa negara luar.

How to enjoy your holiday: Beberapa candi yang wajib untuk dikunjungi adalah Angkor Thom. Di dalam kota kerajaan yang dibangun abad 12 terdapat The Bayon, pusat kerajaan pada abad 11-12. Terdapat relief sepanjang 1.200 meter dengan 11.000 buah figur, juga wajah Buddha di 54 buah puncak candi bertingkat tiga. Di tengahnya terdapat ukiran batu besar wajah Akalokitesvara yang tersenyum dingin, yang sering dijadikan gambar suvenir. The Baphuon, candi berbentuk piramid yang melambangkan Mount Meru, dibangun pada tahun 1050. Terdapat ukiran indah pada ambang pintu dan kolom-kolomnya yang berbentuk oktagonal, juga patung Budha sepanjang 40 meter. Lalu berturut-turut ke Terrace of of the Leper King, tempat kremasi anggota kerajaan setinggi 7 meter, Terrace of Elephants, tempat acara seremonial kerajaan sepanjang 350 meter, dan Ta Phrom, candi abad 12 yang telah terbelah oleh akar pohon yang besar. Di tempat inilah syuting film Tomb Raider dilakukan.
Candi utama Angkor Wat adalah kompleks candi yang merupakan masterpiece arsitektur Khmer yang dibangun oleh Suryavarman II pada tahun 1113 -1150. Di tengah kompleks candi terdapat candi yang terhubung dengan candi-candi lainnya yang bertingkat tiga. Di dinding luarnya terdapat relief sepanjang 800 meter dengan cerita epik Mahabrata yang luar biasa ukirannya. Jangan lupa nikmati matahari terbenam dari candi Phnom Bakeng yang terletak di atas bukit. Dari sana Anda dapat melihat Angkor Wat dari kejauhan dengan latar belakang matahari terbenam yang sinar kuningnya menyorot relief candi. Agar lengkap, kunjungi juga Roulos, candi yang dibangun pada awal kerajaan Khmer, Banteay Srei, candi yang disebut sebagai candi terindah se-Kamboja karena ukirannya yang terbaik dan dibuat dari batu pasir berwarna pink, serta Kbal Spien, relief yang diukir pada bebatuan kali di sepanjang aliran sungai, yang disebut sebagai river with a thousand lingas.

Best time to visit: Kamboja adalah negara tropis, jadi kapanpun bisa ke sana. Musim hujan (Juni sampai September) pun masih memungkinkan.

Budget:
Total biaya pesawat dari Jakarta ke Siem Reap sekitar US$ 500 pulang-pergi.
Rata-rata biaya menginap per malam US$ 5 - 10 (kelas losmen), US$ 30 – 40 (hotel kelas menengah), minimum US$ 50 (hotel kelas atas)
Makan mulai dari US$ 1
Untuk keliling kompleks Angkor, selain ikut tour, dapat menyewa ojek US$ 5 sehari atau sewa mobil berikut supir sekitar US$20 sehari.
Catatan: Meskipun Kamboja mempunyai mata uang Riel, tapi di tempat turis semuanya menggunakan mata uang dolar Amerika.

The Best Shopping Bargains: Chatuchak Weekend Market, Bangkok, Thailand

Jangan mengaku gila belanja bila belum pernah ke Pasar Chatuchak di Bangkok. Tempat yang satu ini adalah pasar akhir minggu terbesar di dunia karena luasnya yang mencapai 35 are dan terdapat 15.000 toko. Pasar ini mirip seperti Pasar Klewer di Solo atau Pasar Beringharjo di Yogyakarta, dengan jejerean los-los kecil dengan jalan yang sempit di antaranya. Yang dijual di sana sangat beragam, mulai dari aksesori, kerajinan tangan, keramik, barang antik, artifak religius, buku, pakaian, makanan, bunga, sampai furnitur dan binatang peliharaan. Jangan kuatir, di sana toko-tokonya sudah digolongkan per section sehingga tidak bercampur antara jualan baju dan bau asap makanan.

How to enjoy your holiday: Namanya pasar, barang-barang di sana bisa ditawar. Jadi, pastikan ajak teman yang jago menawar sehingga bisa semakin puas! Kedua, agar Anda tahu patokan harga, sebelum ke sana ada baiknya Anda pergi ke shopping mall atau toko-toko suvenir di jalan Silom dan Sukhumvit. Kualitas barang-barang di sana baik, tinggal butuh ketelitian dan kesabaran untuk memilih dan menawar. Contohnya T-shirt keren dapat dibeli seharga B 70, 3 stel baju bola (kaos dan celana pendek) dengan kualitas bagus seharga B 250, kain Thai silk 4 meter seharga B 200. Dengan budaya orang Indonesia yang suka memberi oleh-oleh, sangat cocok kalau Anda berbelanja di Chatuchak. Barang andalannya adalah kerajinan tangan khas Thailand dan tak ketinggalan Thai Silk yang dijual meteran dengan warna beragam.
Sayangnya, pasar Chatuchak hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu, mulai dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Datanglah di pagi hari ketika tak begitu ramai orang, sehingga Anda bisa leluasa berkeliling dan cuaca pun tidak panas. Pastikan Anda mempunyai peta pasar yang membagi section berdasarkan barang yang dijual agar lebih efektif mencari barang. Apalagi keadaan pasar yang semuanya kelihatan sama sehingga mudah nyasar. Jangan lupa berhati-hati terhadap tukang copet, selalu membawa tas di badan depan Anda dan jangan memakai perhiasan berlebihan. Kalau merasa barang belanjaan Anda banyak dan susah ditenteng, tersedia pula penjual koper dan tas. Bawalah botol air mineral sendiri karena mungkin Anda tidak sempat lari ke section makanan dan minuman.

Best time
: Sama seperti Indonesia, Thailand adalah negara tropis, jadi kapanpun bisa ke sana.

Budget:
Pesawat dari Jakarta ke Bangkok sekitar US$ 400 pulang-pergi.
Menginap B 300-600 (bawah), B 1.000-3.000 (menengah), B 4.000-10.000 (atas)
Makan mulai dari B 30

The Best Nightlife: Filipina

Mereka yang menganggap Eropa sebagai tempat kehidupan malam terbaik akan mengerutkan kening bila dikatakan tempat terbaik ada di Filipina. Negara tetangga kita ini memang jarang jadi tujuan wisata orang Indonesia, mungkin karena letaknya agak jauh dan merupakan negara kepulauan sehingga dianggap sulit untuk traveling ke sana. Selain itu, di Filipina juga tidak ada kebudayaan setua negara Asia lainnya, tidak ada candi atau peninggalan sejarah yang unik, dan bangunan tertuanya pun dibangun pada abad 15. Tapi, mulai hari ini Anda perlu menyempatkan diri ke sana, karena alam Filipina begitu indah, dan dugem di sana pun amat seru!

How to enjoy your holiday: Yang membuat kehidupan malam di Filipina begitu asyik adalah karakter orang-orangnya (disebut Pinoy) yang memang santai, ramah, suka kumpul-kumpul, dan berpesta. They really know how to have fun! Baik di ibu kota maupun di kota kecil, semua orang sama-sama mahir bergoyang di lantai dansa. Dandanannya pun sangat trendy. Yang lebih memudahkan, penduduk sana bisa berbahasa Inggris sehingga Anda mudah untuk berkomunikasi. Nilai plus lagi, tempat dugem di sana relatif aman, sehingga perempuan bisa traveling solo tanpa perlu ragu.
Harga minuman alkohol di sana relatif murah. Sebagai ilustrasi, segelas liquor di bar termahal di daerah elit di Manila hanya Rp 20.000,-. Kalaupun ada entrance fee masuk klub yang paling hip di ibukota, Anda hanya perlu membayar sekitar Rp 35.000,- , itu sudah termasuk 2 gelas minuman. Di klub Cocomangas di Boracay bahkan ada “paket mabuk”. Anda hanya perlu bayar sekitar Rp 100.000 untuk dapat 15 gelas beraneka macam minuman. Bila Anda berhasil tidak mabuk, nama Anda ditulis khusus di “Hall of Fame” klub tersebut.
Sebagian besar tempat dugem punya live-music yang seru. Tempat gaul di sana rata-rata punya buka hingga jam 3 pagi di hari kerja dan sampai jam 5 di akhir minggu. Pilihan tempat gaul kosmopolitan di Manila ada di daerah Makati (Makati Commercial Center, Greenbelt Mall, The Fort, Jupiter Street dan J.P. Rizal Street), Malate (Remedios Circle, Mabini Street, Nakpil Street dan Roxas Boulevard), dan distrik Ermita. Petunjuk tempat yang sedang happening dapat dilihat di free magazine atau flyer yang terdapat di pusat keramaian. Di setiap daerah itu ada jejeran cafe, bar, klub, diskotik dengan pilihan musik yang beragam. Beberapa tempat yang paling favorit adalah Havana Bar di Remedios Circle, Hard Rock Cafe di Malate, V Bar di Makati, Absinthe di Greenbelt, dan untuk penggemar house music di Laser Planet di Roxas. Jika Anda ingin ke kasino, pergi saja ke Filipino Pavilion di Hotel Holiday Inn atau Casino Filipino Heritage di Hotel Heritage.

Best time to visit: Filipina adalah negara tropis, jadi kapanpun Anda bisa ke sana.

Budget:
Pesawat dari Jakarta ke Manila sekitar US$ 500 pulang-pergi.
Menginap P 500-600 (kelas bawah), P 700-1000 (hotel kelas menengah), P 1500-2000 (hotel kelas atas)
Makan mulai dari P 80
Biaya gaul P 150-300, itupun sudah minum ‘habis-habisan’


Thursday, December 07, 2006 

Berbikini di tengah kemacetan kota

Banyak alasan mengapa kita bisa ‘saltum’ (salah kostum) saat traveling, terutama bila traveling dalam waktu yang cukup lama dan ala backpacker pula. Saltum sering terjadi pada hari-hari terakhir traveling dimana pakaian sudah habis tapi malas mencuci. Mulailah saya sibuk membongkar ransel dan mengendus-endus bau pakaian – yang tidak terlalu bau, maka akan dipakai ulang. Sialnya, seringkali pakaian yang tersisa kok ya tidak serasi? Bayangkan saja kostum saya pada malam terakhir di Koror, Palau, saat mau dugem: kaos berkerah warna coklat tua, celana training 7/8 warna biru muda pastel, plus sepatu sneakers warna hijau tentara dan kaos kaki hitam. Hiii!

Akibat ketidakpedulian akan kostum juga bisa membuat saltum, bahkan bayar uang ekstra. Kalau traveling ke negara tropis, selain untuk meringankan ransel dan supaya tidak kepanasan, bawaannya kan celana pendek dan kaos kutung. Tapi ketika mengunjungi tempat wisata religius, seperti candi-candi di Bangkok, ada candi yang mempunyai peraturan bahwa pengunjung harus berpakaian rapih, tidak boleh terlalu terbuka alias yang kelihatan ketiak dan paha, bahkan tidak boleh pakai alas kaki yang terbuka. Alhasil saya harus sewa sarung untuk menutup paha dan kain penutup lengan untuk bisa masuk ke candi – yah, keluarin duit lagi deh!

Paling bingung kalau traveling ke tempat yang perbedaan suhunya lumayan besar, contohnya perjalanan saya yang dimulai dari Helsinki yang bersuhu -5°C dan diakhiri di Athena yang bersuhu 20°C. Saya menyesal hanya membawa winter jacket dan tidak membawa light jacket. Orang sampai menyangka saya penyakitan dengan jaket super tebal di antara orang yang memakai celana pendek dan kaos saja. Mau pakai celana pendek kok ya tidak cocok dipadukan dengan winter jacket, mau dibuka saja jaketnya kok ya udara masih dingin. Duh, serba salah! Namun yang pasti membuat saltum ketika saya di Melbourne, dimana kota itu terkenal dengan sebutan ‘4 seasons in a day’. Karena langit terang benderang, dengan pedenya saya pakai kaos dan celana sedengkul. Baru jalan sebentar, turun hujan. Kaos baru saja kering di badan, datanglah angin dingin menusuk tulang. Giliran jaket dipakai, matahari kembali bersinar terang. Haduh!

Kejadian saltum paling bodoh adalah ketika saya ingin pergi ke Bukit Bendera (Penang Hill, Malaysia) yang katanya pemandangan dari atas sana sangat spektakuler, bisa melihat panorama kota Georgetown, Penang Bridge dan Selat Malaka sekaligus. Saya pernah baca di buku panduan bahwa di sana suhunya 5°C, jadilah saya bela-belain pakai baju tebal karena parno dengan udara dingin – celana jeans, kaos didobel, jaket, topi, kaos kaki, dan sepatu. Maklum saya kurang suka udara dingin karena bikin saya alergi, efeknya badan bisa gatal-gatal luar biasa dan timbul lah ruam kemerahan bagaikan digigit serangga. Alhasil sampai di sana... cuaca terang benderang, tidak dingin sama sekali, dan tidak satu orang pun memakai baju setebal saya. Sambil marah-marah mengutuk buku, saya pun membaca ulang. Kalimatnya begini: Bukit Bendera is located 830 meter above sea level, the temperature can be 5°C lower than in the city. Sial, salah baca ni yee!

Kejadian saltum paling memalukan adalah ketika saya dan 2 orang teman menyewa kapal nelayan untuk keliling-keliling di pulau-pulau kecil tak berpenghuni di sekitar Honda Bay, Filipina. Pulangnya kami malas menumpang mandi dan ganti baju, jadilah kami yang hanya berbikini naik tricycle (becak bermotor roda 3) ke Puerto Princessa. Perjalanan yang katanya hanya 15 menit kami anggap cingcay lah untuk berbikini, hitung-hitung sambil mengeringkan badan, lagian kami berada di tengah hutan belantara yang jarang ada orang. Sepanjang perjalanan kami pun asik mengobrol... sampai tersadar ketika makin lama makin banyak cowok-cowok dari kejauhan menyuiti kami. Ada apa ini? Kenapa becak makin lama jalannya makin lambat? Kenapa di sekeliling kami penuh kendaraan yang mengantri? Ini dimana? Hah? Ya ampun, habislah kami diketawain para pengendara mobil dan motor. Rupanya kami benar-benar out of place: 3 cewek Asia, di atas becak terbuka, pake bikini, di tengah kota yang lagi macet jam pulang kantor! Halah malunya...

Moral of the story: Syarat kostum yang benar untuk traveling adalah: pertama, sebelum berangkat pelajarilah tempat tujuan dengan seksama, termasuk adat istiadat dan cuaca. Kedua, rajinlah laundry atau mencuci pakaian sendiri sehingga masih punya banyak stok pakaian bersih.


No Nudity Here!

  • naked: devoid of concealment or disguise
  • Pronunciation: 'nA-k&d, esp Southern 'ne-k&d
  • (From Merriam-Webster Online)

Who's Naked?

    Hi, I am Trinity, an ordinary woman in Jakarta who loves traveling. This is my journal and thoughts collected from my trips around the globe and across my lovely country, Indonesia.
    E-mail me at naked.traveler@gmail.com

    Keep informed on The Naked Traveler news and events, add me as your friend at:
    Profil Facebook Trinity Traveler
    Share your travel stories or get info from the real travelers here

    Subscribe to nakedtraveler

    Powered by us.groups.yahoo.com

    You are naked number .

Naked Me More

     
    Web
    The Naked Traveler

Naked Book

    Get "The Naked Traveler (Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia)" book now in your nearest book stores! Bondan Winarno said,"...memikat. Ada kejujuran dalam mengungkapkan apa yang dirasakan, tidak hanya yang dilihat..."
    For more info, please click here.

NakedShout

Kinda Cool Links


    Lowongan Kerja Minyak dan Gas

Powered for Blogger
by Blogger Templates